Telat Diberangkatkan, Pemudik di Pelabuhan Bajoe Menangis di Depan Petugas

 

 

 

 

Sukday.com – Seorang pemudik merasa sangat kecewa dan menangis di depan petugas posko terpadu Pelabuhan Bajoe, Bone, Sulawesi Selatan. Calon pemudik bernama Ani merasa sedih lantaran keberangkatannya ditunda tidak sesuai degan jadwal yang ada pada tiket.

“Saya datang pukul 19.00 WITa, saya dari Bulukumba itu kejar-kejar ke sini kiranya bisa diangkut pukul 20.00 WITa, tapi faktanya sekarang saya belum diangkut-angkut. Kenapa, Karena saya ngurus sendiri tidak pake calo, kecewa sekali saya pak,” ungkap ani sembari menangis didepan petugas.

Ani yang menggunakan mobil membeli tijet kapal laut tujuan Kolaka, Sulawesi Tenggara dengan jadwal keberangkatan pukul 20.00 WIB. Tetapi, baru bisa diberangkatkan pada pukul 23.00 WITA

Petugas pelabuhan dan Ani sempat bercek-cok. Dia menentang petugas lantaran memberangkatkan kendaraan yang mengantre jauh dibelakangnya. Ani kemudian menunjukan bukti tiker yang dimilikinya dan kelengkapan sesuai peraturan.

“Saya dapat bocoran tadi, kalau saya tidak melalui calo, saya pasti akan diperlambat, tapi kalau pakai calo akan didahulukan gitu, makanya saya kecewa. Bahkan tadi ada yang dari Makassar tiba sebelum buka, belum diangkut-angkut hingga sekarang,” katanya.

Kepala Otoritas Pelabuhan, Sony Fadli mengungkapkan hal tersebut hanya kesalahpahaman. Dia juga menampik adanya praktek percaloan di pelabuhan.

“Disini ada namanya muatan muntahan ketika terjadi over kapasitas penumpang dari kapal, jadi otomatis penumpang harus antri kembali sesuai nomor urut pemberangkatannya. Tidak ada itu calo. Dalam praktiknya dilapangan dinamai pengurus khusus kendaraan, itu bagi yang mengendarai kendaraan dan itu sifatnya resmi,” tutur Sony.

Rencana Ibukota Pindah Luar Jawa Akan Terealisasikan

Sukday.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginginkan ibu kota pindah ke luar Jawa. Rencana ini sedang dipelajari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Menurut pengamat perkotaan Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, dalam kajian itu tidak hanya menimbang soal ketersediaan lahan, tapi juga memastikan lokasi ibu kota baru nanti bebas banjir.

“Jadi tolong tim kajian yang memang akan mengkaji itu tidak hanya persiapan tanah yang tersedia, juga harus memperhatikan aspek perkembangan hidrologisnya. Misalnya, apakah wilayah itu punya potensi terkena bencana banjir atau tidak,” kata Yayat, Jumat (14/4/2017).

Dengan begitu, peristiwa banjir yang rutin terjadi Jakarta saat musim hujan, tidak terulang di lokasi ibu kota baru.

“Kita tidak pernah merencanakan Jakarta sebagai ibu kota, karena mewariskan saja dari masa lalu. Ternyata, daerah yang ada di Jakarta ini punya potensi genangan karena merupakan wilayah dari delta atau muara dari sungai-sungai besar,” terang Yayat.

Selain bebas banjir, daya dukung dari ketersediaan air tanah ada atau tidak. Karenanya, pertambahan penduduk membutuhkan ketersediaan air baku yang cukup.

Bukan hanya lahannya yang harus cukup, namun pasokan air juga wajib ada.

“Jadi kondisi tanah juga harus dikaji untuk kelayakannya, bukan hanya sekadar ada tanah luas,” jelas Yayat.

Saat ini Bappenas sedang mengkaji Palangka Raya sebagai lokasi ibu kota baru. Selain itu, Bappenas akan mengkaji beberapa daerah lain sebagai lokasi ibu kota baru.

Yayat mengusulkan, Sulawesi Selatan (Sulsel) masuk dalam kajian pemerintah. Menurut Yayat, daerah-daerah di Sulsel yang bisa dipertimbangkan jadi lokasi ibu kota baru antara lain Makassar, Parepare, Bantaeng, dan Sidrap.

“Lahan di Sulsel masih bisa dikembangkan, masih bisa dicadangkan lahan. Tapi tolong tidak mengambil lahan-lahan untuk area pertanian subur. Tidak mengubah fungsi lahan-lahan pangan,” pungkas Yayat.