Berkah Di Balik Angin Puting Beliung

Sukday.com – Abah Opan (60) warga Kampung Nenggeng, Desa Cijengkol, Kecamatan Caringin, Sukabumi, Jawa Barat akhirnya bisa tersenyum setelah rumahnya yang ambruk karena puting beliung sebulan lalu kembali dibangun. Ia semakin bahagia karena rumahnya yang asalnya berdinding bilik, sekarang menjadi tembok.

Saat angin puting beliung datang, di dalam rumah hanya ada istrinya Mak Nunung (50), sementara Abah Opan dan enam anaknya sedang beraktivitas di luar. “Mak Nunung loncat dari ketinggian 4 meter, kaki dan tangannya terkilir. Saat itu kita bawa untuk pengobatan tradisional,” cerita Indra tokoh pemuda setempat di sela-sela finishing perbaikan rumah Abah Opan, Jumat (14/4/2017).

Menurut Indra, Abah Opan tak sanggup memperbaiki rumahnya yang hancur. Akhirnya warga pun berembug. Uang perelek yang selama ini dikumpulkan warga, disepakati akan digunakan untuk memperbaiki rumah Abah Opan.

Semua puing disingkirkan, tanah tempat berdirinya rumah ambruk milik Abah Opan lalu diratakan, warga dan pemuda bahu-membahu membuat pondasi awal.

“Semua kita bikin dari nol, koordinasi dengan ketua RT ada uang sebesar Rp 4 Juta, banyak juga dermawan khususnya dari organisasi Pemuda Pancasila (PP) yang membantu berupa semen dan batu bata. Akhirnya kami sepakat menyulap rumah milik Abah yang asalnya gubuk bambu menjadi permanen,” lanjut Indra yang juga ketua Organisasi PP di Kecamatan Caringin ini.

Waktu pengerjaan sendiri berjalan selama 3 minggu, gotong royong menjadi alasan cepatnya waktu pengerjaan. “Bahan sudah terkumpul, langsung kita kebut semua warga dan pemuda desa terlibat. Tidak ada bayaran, hanya makan siang itupun modal ngeliwet,” tuturnya lagi.

Indra menyebut program perelek adalah hasil inisiasi para pemuda dan tokoh masyarakat di kecamatan dan sudah berjalan selama 1 tahun. Kegiatan perelek adalah di mana warga mengumpulkan uang atau beras dengan cara menyimpannya dalam sebuah tempat yang sebelumnya telah disediakan petugas untuk dikumpulkan dan dipergunakan, dimanfaatkan oleh, dari dan untuk kepentingan warga. Ini merupakan kearifan budaya Sunda yang kini hampir punah.

Setiap bulan, beras digunakan untuk membantu warga yang kekurangan begitu juga uang yang terkumpul dipakai untuk membantu warga lainnya yang membutuhkan.

“Alhamdulillah, sudah terbentuk beberapa kegiatan mandiri yang melibatkan masyarakat. Kami tidak ingin selalu bergantung ke pemerintah, ketika kami sendiri bisa berbuat nah itu yang kami kerjakan,” sambungnya.

Menurut Indra, budaya gotong royong saat ini perlahan mulai dilupakan oleh masyarakat pedesaan dengan adanya infak dan perelek segala kesulitan masyarakat bisa diatasi tanpa kendala karena mengedepankan kebersamaan.

“Dalam organisasi kami punya tagline ‘Sukabumi Hudang Euy’ yang dijadikan filosofi agar kita tidak terjebak dalam birokrasi pemerintahan yang kadang rumit dan prosesnya memakan waktu lama. Bisa dibayangkan entah kapan Abah Opan dan keluarganya bisa berdiri lagi rumahnya jika kita berharap bantuan rehab dari pemerintah,” tuturnya.

Selain Abah Opan, program perelek juga berhasil mengentaskan pemilik Rutilahu dan masyarakat yang berhadapan dengan fenomena sosial lainnya.

“Ada mak Ining yang rumahnya juga tidak layak huni, ada juga Mak Ooy yang kita bantu untuk menjalani pengobatan kangker payudara. Kami juga bersyukur virus kemandirian ini terus menyebar ke wilayah lainnya dan menjadi program tetap dari organisasi kami,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *